(Bukan) Perkara Usia

Pernikahan bukan perkara usia tapi kesiapan. Sebagian orang memutuskan menikah muda, sebagian lainnya memutuskan menikah diusia rata-rata dn lainnya bahkan melewati usia rata-rata mereka. Hal tsb adalah sebab mereka telah siap, siap atas segalanya.
Sebab saat seseorang memutuskan utk menghabiskan sisa umurnya dengan orang lainnya berarti ada hal-hal yg harus mereka tumpu berdua dan aset mereka, anak-anak mereka adalah hal terpenting.
Hari ini banyak kita liat ancaman seperti narkotika, pornografi, pelecehan seksual atau bullying yg menjadikan anak-anak sebagai sasarannya. Maka orang tua nya adalah kunci utk menyelamatkan mereka dr ancaman tersebut.
Lalu, jika seseorang menikah dgn keadaan belum siap apa yg akan terjadi?!
Kesahalan dalam pola pengasuhan dan pendidikan anak.
Sama halnya dgn prinsip ‘tak ada murid yg bodoh, yg ada hanya guru yg malas’ maka ‘tak ada anak yg bobrok, yg ada hanya kesalahan orang tuanya yg mengasuh dn mendidik’

Categories: Mind of Life | Tinggalkan komentar

Bring Your Kids to Work

The experience is best teacher.

Begitu seringnya kita mendengar kalimat tersebut bahkan tak jarang kita pun menyakininya dalam setiap proses kehidupan. Semakin banyak pengalaman maka semakin banyak pula kita belajar. Maka jangan ragu berikan anak-anak pengalaman terbaik dengan melibatkan mereka pada aktifitas sehari-hari.

Bring your kids to work merupakan kegiatan ‘semi wajib’ yang meski tampak sederhana tetapi dapat memberikan anak-anak pelajaran yang berharga.

What they will get?

  • Hidup itu sulit dan perlu perjuangan

Uang tak turun dari langit dengan ongkang-ongkang kaki tapi juga perlu perjuangan. Ketika seorang anak direktur melihat bagaimana ayahnya harus rapat dari pagi sampai petang, memanage anggotanya, memecahkan berbagai masalah, presentasi dan menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan lain. Anak tersebut kelak akan belajar strategic planning, problem solving, keberanian untuk tampil didepan banyak orang dan negosiasi. Ketika seorang anak tukang sampah melihat bagaimana ayahnya pergi sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam, bergelut diantara baunya sampah, begumul dengan buangan orang lain. Anak tersebut kelak akan belajar bagaimana mereka harus menjaga kebersihan, daur ulang dan adversitas. Belum lagi yang orang tuanya tentara, dokter, pilot, waitress dan berbagai profesi lainnya. Bayangkan berapa banyak yang anak-anak dapat pelajari dari tugas-tugas orang tuanya?!

  • Malas bukan pilihan

Ada banyak proses yang harus dilalui dalam kehidupan ini dan malas bukanlah pilihan. Dari seorang ibu yang menjadi guru anaknya dapat melihat bagaimana ibunya harus berdiri berjam-jam utuk menyampaikan materi pada muridnya, mengoreksi soal-soal setelah muridnya bubar dan menyiapkan materi pelajaran esok hari. Dari seorang ibu rumah tangga anaknya dapat melihat bagaimana ibunya bangun di pagi hari menyiapkan sarapan untuk dirinya, memandikannya, menyiapkan perlengkapan sekolahnya, mencuci, menyetrika dan aktifitas lainnya. Dari hal-hal tersebut anak-anak akan memahami bahwa untuk bisa hidup setiap orang harus bekerja.

  • Syukur

Syukur merupakan eksistensi dari konsep abstrak yang terpenting. Sebab, selama ini konsep syukur pada umumnya jarang dimiliki anak-anak. Mereka bangun tidur di tempat yang nyaman, ketika mereka ingin makan semua telah tersedia diatas meja, sekolah di sekolah terbaik, pulang sekolah main gadget, mandi, dan aktifitas lainnya dijalani tanpa rasa syukur. Mereka mendapatkan kenyamanan hidup tapi tidak tahu bagaimana lelahnya ayah dan ibunya bekerja untuk memberikan mereka hal-hal terbaik.

Berbekal aktifitas ‘bring your children to work’ anak-anak akan belajar bahwa apa yang mereka dapatkan dan miliki hari ini adalah perjuangan ayah dan ibu mereka. Apa yang mereka lakukan hari ini hanyalah satu langkah dari ribuan langkah yang harus dilalui. Hidup itu sulit. Segalanya membutuhkan proses yang harus diusahakan dengan cucuran keringat, tenaga dan tidak malas. Maka anak-anak pun akan mulai memahami eksistensi syukur kepada Allah Ta’ala. Lalu mereka pun akan belajar berterima kasih pada orang tuanya dan lebih menghargainya.

Proses ini pun kelak memberikan mereka gambaran bahwa laki-laki harus bekerja untuk istri dan anak-anaknya. Sehingga kelak mereka dapat menjadi laki-laki dewasa yang baik dan bertanggungjawab. Bahwa perempuan harus bisa menjadi multi-talent untuk dapat mengatasi semua perkerjaannya. Sehingga kelak mereka dapat menjadi perempuan dewasa yang cerdas dan menjadi sekolah pertama yang terbaik untuk anak-anaknya.

So, let’s go ahead and bring your kids to work!!

Categories: Mind of Life | Tinggalkan komentar

Tak Ada Mantan Mertua! part 2

“Saya punya syarat yang syarat ini menjadi bagian dari sahnya akad nikah. Artinya farji saya halal diantaranya jika syarat saya ini dipenuhi oleh Mas Furqan.” Kata Anna di majelis musyawarah itu.

“Apa itu syaratnya?” Tanya Furqan.

“Pertama, setelah menikah saya harus tinggal di sini. Saya tidak mau tinggal selain di lingkungan pesantren ini…………”

(Ketika Cinta Bertasbih, Habiburrahman El-Shirazy)

Dalam buku karya Habiburrahman El-Shirazy, Anna Al-thaufunnisa mengajukan syarat dalam khitbahnya, salah satunya yah itu. Awalnya saya juga bertanya-tanya kok bisa mengajukan syarat tersebut sebab biasanya setelah nikah, belum punya rumah, suami boyong istri ke rumah orang tuanya. Tapi setelah melihat fenomena banyaknya clash antara mertua dan menantu yang pada umumnya menantu dan mertua perempuan. Saya mulai menelaah…

Adanya dua perempuan tinggal bersama dalam satu atap itulah yang rentan clash dibandingkan dengan dua lelaki yang tinggal bersama dalam satu atap sebab biasanya laki-laki bekerja di luar rumah, pagi hari sarapan kemudian pergi kerja, pulang sore hari, mandi, basa basi, makan malam lalu bisa masuk kamar tanpa keluar lagi tapi perempuan mana mungkin bisa begitu ditambah lagi hatinya lebih sensitive dan baperan.

Jika anak perempuan dan ibu kandungnya sendiri yang bertahun-tahun hidup bersama saja bisa (beberapa atau sering) clash, bagaimana dengan mertua dan menantu yang baru ketemu gede?!

Jika selama kita sibuk mencari pasangan ideal dengan serentetan kriteria maka jangan lupa untuk memilih mertua juga. Pastikan saja sang mertua punya pola asuh dan didikan yang sama, samakan prinsip-prinsip dasar yang dianut, sesuaikan kepribadiannya dan point terpenting dari semuanya adalah AGAMA. Sebab dengan agama, mertua dari pihak perempuan akan paham bahwa anak perempuannya akan ‘hilang’ karena kini syurga bagi anaknya adalah ketaatan dan ridho suaminya. Sebab dengan agama, mertua dari pihak lelaki akan paham bahwa keberadaan menantu perempuan tinggal bersamanya dalam satu atap akan lebih banyak mendatangkan mudharat daripada sebaliknya.

Sekali lagi, tak ada mantan mertua.

Sebab, pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan yang berbeda tapi juga menyatukan dua keluarga. Maka tak usah heran kalau adik ipar yang sakit dan keluarganya sedang pailit, kita yang ikutan pusing 🙂

Categories: Mind of Life | Tinggalkan komentar

Tak Ada Mantan Mertua! part 1

Before marriage…

Pada umumnya kita memiliki set ‘pra-syarat’ yang kita inginkan (harus) dimiliki oleh calon pasangan kita.

Kriteria umum pertama minimal seagama, kalau bisa sih better than our syukur-syukur bisa masuk kriteria shaleh-shalehah. Apalagi ditambah ngerti hadist dan tafsir terus hafidz qur’an.

Lalu kriteria fisik harus ganteng, tinggi, kulit ga terlalu putih, ga gendut, de el el dah.

Lalu ada lagi kriteria kepribadian yang harus punya good sense of humor, cerdas, kreatif, pekerja keras, bertanggungjawab, setia dan serentetan sifat ideal lainnya. Pokoknya perfect lah kyak actor drama korea.

Belum lagi untuk orang super picky (mungkin gue salah satunya) bisa jadi ada prasyarat dari universitas mana dia belajar, jumlah saudara kandungnya berapa, keluarganya keturunan suku mana, bisa bahasa inggris atau engga, dan segambreng kriteria super duper detail lainnya. Bahkan ada pula yang sebelum menikah berusaha melihat bagaimana calon pasangannya marah, bagaimana dia menyelesaikan masalahnya, cara dia mengaji, cara dia memandang rencana kita untuk berkarir atau meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, pokoknya open-minded lah.

Di usia menikah, biasanya seseorang sibuk memilah-milih pasangan, sibuk dengan apa yang kita inginkan pada pasangan tersebut lalu LUPA untuk memilih apa yang kita inginkan pada orang tuanya. Padahal, (naudzubillah) kalau kita sampai bercerai mungkin pasangan kita bisa jadi mantan suami/istri tapi orang tuanya akan tetap menjadi orang tua kita sebab TAK ADA MANTAN MERTUA.

Categories: Mind of Life | Tinggalkan komentar

Om Telolet Om

What is ‘Om Telolet Om’?!

Om Telolet Om merupakan worldwide trending topic yang menutup akhir tahun 2016. Banyak berbagai persepsi hadir dalam memaknai OTO. Tapi tak usah berlebihan sebab “Om” itu dimaksudkan sebagai panggilan untuk supir bus. Sedangkan “Telolet” itu merupakan suara klakson yang bunyinya tolelot telolet telotet telolet (seperti itulah). Jadi singkatnya, “Om telolet om” itu adalah perkataan atau seruan yang diucapkan oleh anak-anak yang ditujukan untuk pengemudi bus agar pengemudi mau membunyikan bel/klakson yang bunyinya telolet.

‘Om Telolet Om’ no matter what it is. Being happy isn’t expensive.

Fenomena OTO menunjukan bahwa bahagia itu sederhana sama hal nya dengan dulu saat kita melihat pesawat lalu kita berteriak ‘kapal minta duit’. OTO juga memberikan bukti bahwa selama ini kita telah jenuh dengan hiburan-hiburan yang ada. Film yang berisi roman picisan, lagu-lagu cinta dan lain sebagainya yang hampir tak dapat difilterisasi.

Namun ada hal memprihatinkan dan menyedihkan dari fenomena ini yang kita lupakan, abaikannya begitu saja atau bahkan kita adalah bagian didalamnya. Iya bagian dimana bukan saja anak-anak dan remaja yang terlibat tapi tak sedikit orang tua  justru malah ikut-ikutan berdiri dipinggir jalan, sibuk record suara klakson atau mungkin malah ikut-ikutan menghalangi jalan bus bus sambil menyodorkan tulisan di karton yang berisi ‘Om Telolet Om’ sampai-sampai melupakan keselamatan jiwanya hanya untuk kegembiraan mendengar suara klakson bus bus yang terbilang cukup variatif.

Kemanakah orang tua yang justru mustinya menjadi controller?

Kemampuan berpikir, memilih dan mengambil keputusan seharusnya menjadi sesuatu yang penting. Namun justru kita malah kehilangan DIALOG dari pola pengasuhan.

Begitu banyak hal yang menyangkut kepribadian, akhlaq, kecerdasan sosial dan kemampuan controlling emotional yang terabaikan dari spectrum pengasuhan sebab tak sedikit orang tua yang justru malah terfocus pada kesuksesan nilai-nilai akademis.

Anak adalah peniru paling ulung, anak mudah kehilangan arah. Anak-anak dapat berbondong-bondong mengerjakan hal-hal yang tidak terpuji dan tidak masuk akal, bahkan untuk hal-hal yang kemudian dianggap lucu dan PANTAS.

Sungguh betapa lalainya pola pengasuhan dan pendidikan disekitar kita. Ada banyak perkerjaan rumah yang musti kita benahi untuk membuat anak-anak kita menjadi BERBEDA dengan alasan yang BENAR. Namun kian hari kenyataan bahwa seharusnya anak-anak memiliki pendirian, batas, tidak ikut bagaimana kata dan perbuatan orang justru semakin langka, semakin mahal.

Let’s being a hero for our children! Save our children!

Categories: Mind of Life | Tinggalkan komentar

Using Be

Sentence usually consist of Subject and Verb.

Verb can be noun, adjective or place.

‘To be’ uses as conjunction between subject and verb.

Using Be click here

Summary : Basic Sentences Patterns with ‘Be’

a. Subject + be + noun

The noun or pronoun that comes at the beginning of sentence is called the “subject”

b. Subject + be + adjective

Be is a ‘verb’

c. Subject + be + a place

A place may be one word. e.g Maria is there. A place also may be prepositional phrase (preposition + noun) e.g Ken’s sister in her room.

Categories: English Zone | Tinggalkan komentar

About the Pain

Oleh : Vina Nur Azizah

Ku warnai lukaku dengan warna merah muda.

Semakin terluka..semakin pula kau akan melihat betapa merah mudanya hatiku.

Lalu orang-orang yang mencintaiku tak akan mewarnainya dengan merah muda.

Sebab, yang ada hanyalah lukisan dengan penuh dedikasi cinta, kepercayaan yang tak rapuh, kesetiaan tanpa syarat kemudian senyum yang berpijar sempurna selayaknya pelangi terbalik yang memenuhi ruang kecil hatiku.

 

Categories: Mind of Life | Tinggalkan komentar

When You Choose Me

Created by : Vina Nur Azizah

When you choose me ….
Make honest as loyal friend every word you’re saying.
When you choose me …
Make both as a story that is inseparable from us.
When you choose me …
Make my lap as place for you anchoring your tired.
When you choose me …
Make sorry be the first word in each wound.
When you choose me …
Make missed there between each farewell.
When you choose me …
Make my heaven as a mandate for your heaven.
When you choose me …
Make sure I’m the only one your angel here and for hereafter.

Categories: Poetry | Tinggalkan komentar

First Day of School

Oleh : Vina Nur Azizah

Waktu bergulir sempurna mengiringi hari yang berganti. Seperti juga semesta yang terus berputar pada porosnya. Pada detik yang berlarian ku temui wajah-wajah polos selayaknya langit biru di cakrawala. Tak pernah terbesit dalam benakku sebelumnya untuk berada diantara mereka. Menemui mereka dihari pertama sekolah. Jika pada tahun-tahun sebelumnya aku hanya menatap wajah keponakanku, kini aku tak dapat lagi hanya menutup mataku untuk melihat sebagian lainnya.

Pada bola mata yang berpijar sempurna aku menemui banyak hal yang tak pernah ku lihat sebelumnya. Ada tangis, ada senyum, ada ketakutan, ada pula kebahagiaan dan keceriaan. Inilah langkah-langkah kecil pertama mereka dari 6000 hari hingga kelak mereka kan memakai toga seraya berlari dan memeluk orang tuanya. Selayaknya buah matang yang tumbuh pada pohonnya, pada waktu yang tepat akan jatuh sendiri bahkan manis pula buahnya. Begitu pula anak-anak, mereka yang siap atau tidak siap untuk memasuki ruang pertamanya akan mengatakannya melalui air matanya.

Yang ku tahu kini adalah…

Guru bukanlah orang tua yang dalam nadi anak-anak teraliri darah yang sama. Saya yakin para orang tua akan lebih mampu mendengar suara-suara mereka meski tanpa kata. Maka, memberikan mereka kepercayaan bahwa rasa nyaman terjamin  adalah kunci pertama yang harus didapatkan oleh anak-anak. Sebab inilah langkah awal dari perjalanan panjang yang akan mereka lakukan dalam milyaran detik waktu.

Jika sekolah telah menjadi rumah kedua bagi anak-anak, maka saya percaya mereka tak akan jemu untuk menuntut ilmu sepanjang hidupnya.

 

Categories: Mind of Life | Tinggalkan komentar

When I remember

Oleh: Vina Nur  Azizah

Hujan pecah di tanganku. Dingin.. kelu.. tapi ku tak mau beranjak. Satu-satu kristal hangat menjalar ke sekian kali. Tepian sungai temaram terbalut senja yang basah. Putih memucat menyerbukkan bara kepedihan. Tapi aku terlanjur terpasung hatimu. meski entah di mana, kini ku merasa kau berdiri di sini. Di depanku. Selapis senyum terukir memeluk kenangan itu. Ingatkah kau? Mungkin tidak, mungkin iya. Aku bukan ilusionis yang bisa tepat membidik warna hati. Hanya senyumanmu serasa meleburkankan semua rindu dan dendam itu dalam waktu yang bersamaan. Gelombang luka menghitam di jantung. Aku mencibir bayangmu.
Semoga takkan ada lagi suara yang mengguncang alam kehidupanku. Semoga!

Categories: Short Story | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Learn for the Future

Budi Waluyo | Let's break the limits..!!

Vina Nur Azizah

Minds is oceans, wisdom is pearls. And life is the great and loveliest book for every people can read it.

Study English

Just Believed to God

3angka1

Hello World, Let's Have Fun!

Icha_chan

Hello guys, welcome to my blog ^^. Here you can search knowledge or some info about Korea